Kultum Ramadhan 1447H: Jadikan sebagai Bulan Pendidikan Kejujuran dan Antikorupsi

Rabu, 25 Februari 2026 · 15:50 WIB

Yogyakarta (Kemenag DIY) — Kultum Ba’da dhuhur dalam rangkaian Siraman Rohani Ramadhan 1447 H di Musholla Al-Ikhlas Kanwil Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (25/2/2026), disampaikan oleh Nurrokhman dari Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (Pakis). Mengangkat tema “Ramadan: Bulan Pendidikan Kejujuran dan Antikorupsi”, ia menekankan pentingnya menjadikan Ramadan sebagai momentum pembentukan karakter yang jujur dan berintegritas.

Dalam tausiyahnya, Nurrokhman menyampaikan bahwa Ramadhan sejatinya adalah syahrut tarbiyah (bulan pendidikan), yakni waktu yang tepat untuk belajar dan memperbaiki diri. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa proses belajar harus dilandasi dengan pemahaman yang benar agar tidak menimbulkan kekeliruan dalam pengamalan.



Kultum Ramadhan 1447H: Jadikan sebagai Bulan Pendidikan Kejujuran dan Antikorupsi

Kultum Ramadhan 1447H: Jadikan sebagai Bulan Pendidikan Kejujuran dan Antikorupsi

Ia mengutip kandungan QS. Al-Jumu’ah ayat 2 yang menjelaskan bahwa Rasulullah diutus untuk membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa, serta mengajarkan kitab dan hikmah. Menurutnya, konsep pembelajaran yang baik harus mengandung nilai hikmah dan menghasilkan perubahan nyata dalam perilaku.

“Ilmu yang benar adalah ilmu yang membawa pada kebaikan dan melahirkan sikap yang lebih baik. Ramadan menjadi momentum untuk mengevaluasi, apakah ilmu dan ibadah kita sudah berdampak pada peningkatan kejujuran dan integritas,” ujarnya.

Nurrokhman juga menegaskan bahwa puasa merupakan ibadah yang bersifat sirr (rahasia), yang hanya diketahui secara pasti oleh Allah SWT dan pelakunya. Berbeda dengan ibadah lain yang tampak secara lahiriah, seperti salat, zakat, atau haji, puasa tidak memiliki indikator fisik yang pasti. Karena itu, puasa menjadi latihan kejujuran paling mendasar.

“Puasa melatih kita untuk jujur, meskipun tidak ada yang melihat. Inilah pendidikan integritas yang sesungguhnya. Jika kejujuran sudah tertanam, maka perilaku koruptif dapat dicegah sejak dari dalam diri,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Ramadhan mendidik umat Islam untuk menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual. Kecerdasan tersebut akan membentuk pribadi yang takut melakukan pelanggaran, sekecil apa pun, karena menyadari adanya pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Ia mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan setiap hari di bulan Ramadan sebagai proses pembelajaran yang terus meningkat kualitasnya. “Jangan sampai ibadah kita hari ini sama dengan kemarin tanpa ada peningkatan. Ramadhan harus melahirkan pribadi yang lebih baik dari sebelumnya,” pesannya.

Menutup kultum, Nurrokhman berharap agar Ramadhan tahun ini mampu membentuk insan yang kembali kepada fitrah, bersih dari dosa, serta memiliki komitmen kuat untuk menjaga kejujuran dalam kehidupan pribadi maupun dalam pelaksanaan tugas dan pelayanan publik.

Dengan semangat Ramadhan sebagai bulan pendidikan kejujuran dan antikorupsi, diharapkan seluruh aparatur Kanwil Kemenag DIY semakin memperkuat budaya kerja yang bersih, amanah, dan melayani. (don/bap)


User Photo

Penulis: Bramma Aji Putra
Editor: Bramma Aji Putra
Sudah dibaca: 25

Ikuti Kami

Website Resmi Kemenag DIY

Sarana