Opini Suluh: Menyusun Resolusi Waktu

Jumat, 09 Januari 2026 · 10:57 WIB
Dr. H. Nur Ahmad Ghojali, MA

Menjadi suatu peringatan bahwa waktu tidak akan kembali dan selaku insan berusaha menyusun resolusi waktu. Resolusi waktu dipahami sebagai kejelasan batas waktu (time-bound) dalam rencana atau target.sebagai contoh: resolusi kerja tahunan, resolusi bulanan, resolusi mingguan.

Seneca (4 SM–65 M) – Filosof Stoik dalam De Brevitate Vitae (On the Shortness of Life): “It is not that we have a short time to live, but that we waste much of it.”

“Bukan karena hidup kita singkat, tetapi karena kita menyia-nyiakan banyak waktu.”

Seneca menegaskan bahwa waktu adalah aset paling berharga, dan manusia rugi bukan karena umur pendek, tapi karena lalai mengelolanya.

Hal ini selaras dengan QS. Al-‘Ashr: manusia dalam kerugian kecuali yang beriman dan beramal saleh.

Islam mengajarkan bahwa waktu merupakan amanah yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Allah mengingatkan:

“Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh…” (QS. Al-‘Asr: 1-3)

Ayat ini mengingatkan bahwa waktu akan membawa manusia kepada kerugian jika tidak diisi dengan iman dan amal saleh.

Dalam Islam, setiap hari dan setiap waktu adalah kesempatan bagi hamba untuk memperbaiki diri, meningkatkan iman, dan mendekatkan diri kepada Allah. Menyusun resolusi bukan sekadar rencana duniawi, tetapi kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama.

Untuk mencapai peningkatan amal di tahun 2026 menggunakan prinsip SMART (Spesifik, Measurable /Terukur, Achievable/dapat dicapai, Realistis, Terikat Waktu).

Dalam hal pribadi memperhatikan kesehatan, hobi, keterampilan baru.Pencapaian karier dengan target kerja, promosi, sertifikasi, peningkatan edukasi dan cari solusi dalam setiap persoalan. Dalam hal finansial mengusahakan diri berhemat, menabung, investasi, menyisihkan uang darurat.

Meningkatkan relasi dengan mempererat hubungan keluarga, teman dan kolega serta mitra kerja, meningkatkan networking.

Perubahan tahun harus membawa perubahan diri yang positif. Al-Qushayri mengatakan bahwa perubahan diri harus dilakukan secara bertahap agar tidak membuat seseorang putus asa.

Menyusun resolusi yang baik dengan mendekatkan diri kepada Allah, diantaranya meningkatkan Ibadah seperti meningkatkan kualitas shalat, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, atau berpuasa sunnah, perbanyak silaturahim.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling kontinyu walau sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Serta senantiasa berusaha menambah ilmu yang termasuk ibadah produktif berkepanjangan dan kerja dengan cerdas, ikhlas dan keras 

Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan:"Sesungguhnya Allah mencintai bila salah seorang di antara kamu mengerjakan suatu amal, maka ia menyempurnakannya.” (HR. Al-Bayhaqi)

Hadis tsb menunjukkan pentingnya ihsan dan itqan dalam bekerja (kesungguhan dan kesempurnaan) dalam setiap amaliah termasuk ketika merencanakan perubahan diri dalam resolusi waktu tersebut.

 

Dr. H. Nur Ahmad Ghojali M.A 

Analis Kebijakan Ahli Madya 

Kanwil Kemenag DIY


User Photo

Penulis: Bramma Aji Putra
Editor: Bramma Aji Putra
Sudah dibaca: 40

Ikuti Kami

Website Resmi Kemenag DIY

Sarana