Opini Suluh: Embarkasi dan Layanan Terintegrasi

Kamis, 06 November 2025 · 21:38 WIB
Dr. H. Nur Ahmad Ghojali, S.Ag., MA

Warga DIY dan para calon jamaah haji tahun 2026 tentu bersyukur dengan terbitnya Keputusan Menteri Haji dan Umrah Nomor 11 Tahun 2025 tentang embarkasi dan debarkasi haji. Dalam keputusan Menteri tersebut ditetapkan bahwa Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo menjadi embarkasi dan debarkasi haji untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sebagian wilayah Jawa Tengah  mencakup 6 kabupaten/kota di Kedu (Jawa Tengah) seperti Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Magelang, Temanggung, Kota Magelang.

Ini menjadi tonggak sejarah penting dimana Bandara YIA sebagai bandara internasional telah memenuhi standar penerbangan tidak hanya penerbangan lokal tapi juga mancanegara dan untuk perjalanan haji. 

Untuk pemberangkatan jamaah haji dipakai konsep hotel sebagai asrama haji. Konsep ini menjadi konsep perdana juga yang muncul dari kebutuhan efisiensi dan kenyamanan jamaah, proses membangun asrama baru butuh waktu yang lama, sehingga hotel berfungsi asrama haji, sebagai ruang transit dan penginapan jamaah sebelum keberangkatan.

Di hotel tersebut tempat manasik, maka harus ada replika ka'bah, tempat ibadah untuk pendalaman materi dan juga tempat pemeriksaan kesehatan, dan pembekalan.

Hotel yang berfungsi sebagai asrama haji selama musim haji, tentu harus dijaga sisi keamanan yang sangat ketat karena barang jamaah merupakan barang yang penting untuk beribadah disamping bekal uang yang harus tetap aman. 

Ada reasoning alasan strategis di balik konsep tsb diantaranya efisiensi anggaran, membangun asrama haji baru butuh investasi besar; sementara banyak hotel yang bisa disewa atau dioptimalisasi.

SOP pelayanan jamaah yang berbeda dari tamu umum. Aspek privasi dan kesakralan harus dijaga, karena fungsi hotel dan asrama haji tentu berbeda. Yang diperhatikan sistem keamanan dan transportasi terintegrasi menuju bandara atau embarkasi.

Dengan asrama haji berbasis hotel jamaah sudah bisa beradaptasi terhadap hotel yang ditempati selama di Makkah Madinah. Tidak sedikit calon jamaah yang belum pernah menggunakan fasilitas hotel seperti pintu hotel, toilet dan shower kamar mandi. 

Standar kenyamanan hotel umumnya lebih tinggi sudah memiliki fasilitas yang layak dengan kamar ber-AC, lift, dapur, ruang makan, dan sebagainya.

Ada beberapa benefit adanya Embarkasi dan Debarkasi di DIY diantaranya meningkatkan kualitas pelayanan jamaah. Jamaah tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke Solo, yang memakan waktu dua hingga tiga jam. Belum lagi dengan ceremonial keberangkatan, sangat penting bagi jamaah lansia yang jumlahnya cukup besar. Dengan keberangkatan langsung dari DIY, jamaah akan lebih nyaman, efisien, dan tidak kelelahan sebelum penerbangan. Disamping itu adanya kemandirian daerah dan efisiensi administrasi. Semua proses yang dimulai dari pemeriksaan kesehatan, imigrasi, hingga manasik dan karantina dapat dilakukan di satu wilayah. Koordinasi antarinstansi lebih mudah, dan pelayanan dapat disesuaikan dengan karakter masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal tertib, berintegritas dan berpendidikan tinggi.

 

Dr. H. Nur Ahmad Ghojali S.Ag MA 

Analis Kebijakan Ahli Madya 

Kanwil Kemenag DIY


User Photo

Penulis: Bramma Aji Putra
Editor: Bramma Aji Putra
Sudah dibaca: 140

Ikuti Kami

Website Resmi Kemenag DIY

Sarana