Opini Suluh: MTQ Transformasi IPTEK

Kamis, 25 September 2025 · 12:40 WIB

Di beberapa Kabupaten/Kota saat ini diselenggarakan MTQ. Histori MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) diselenggarakan di tingkat nasional pertama kali tahun 1968 di Makassar (Ujung Pandang, Sulawesi Selatan) oleh Departemen Agama (kini Kementerian Agama).

Pesertanya berasal dari berbagai provinsi di Indonesia. Waktu itu fokus lomba hanya pada tilawah (bacaan Al-Qur’an dengan lagu/qira’ah).

Saat itu Presiden Soeharto memberi dukungan penuh, sehingga MTQ menjadi agenda resmi kenegaraan. Saat ini ajang MTQ sudah meluas tidak hanya tilawah, tapi juga pemahaman melalui tafsir dan juga seni.

Ada yang berpendapat bahwa MTQ saat ini menjadi suatu rutinitas, seperti tidak ada perubahan yang terjadi setelah penyelenggaraan yang cukup meriah.

Sebenarnya MTQ penting sebagai sarana memperkenalkan keindahan bacaan Al-Qur’an, sekaligus menumbuhkan kecintaan masyarakat untuk mendekatkan diri pada kitab suci. Peserta tidak hanya membaca dengan indah, tapi juga memahami tafsir, hafalan, dan kandungan Al-Qur’an. Suasana ini mendorong masyarakat untuk belajar, menghafal, dan mengamalkan isi kandungan.

MTQ juga penting ajang mencari, melatih, dan membina kader-kader muda agar tumbuh sebagai generasi Qur’ani yang berakhlak mulia.

MTQ lebih menjadi ajang silaturahim akbar umat Islam MTQ, karena pesertanya datang dari berbagai daerah, MTQ juga memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), bahkan ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan).

Para juara dalam ajang MTQ, tidak hanya juara 1 yang melaju ke ajang berikutnya, tapi para juara seharusnya menjadi duta-duta dalam menggaungkan dan mengamalkan Al-Qur’an. Menjadi Duta Al-Qur’an, para juara diharapkan tidak hanya piawai melantunkan ayat-ayat suci dengan merdu, tetapi juga mampu menjadi inspirasi dalam akhlak, menjadi motor penggerak literasi Al-Qur’an di sekolah, kampus, masjid, dan ruang publik, termasuk di media sosial, menjadi duta literasi Al-Qur’an dimanapun berada.

MTQ yang menjadi sebuah agenda rutin dua tahunan cukup menarik, harus dipertahankan dan tidak  berhenti pada penyelenggaraannya, tapi akan terus bergema jika para duta-duta Al-Qur’an tsb hadir di lingkungan umat masing-masing.

Diperlukan reformulasi yang lebih untuk menanamkan nilai keislaman kepada generasi penerus, generasi muda seperti saintek Al-Qur’an, apa yang harus digali dari nilai-nilai Al-Qur’an dalam sudut ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga para pelajar, mahasiswa atau masyarakat umum bisa menemukan ilmu pengetahuan dari Al-Qur’an. Demikian juga dalam isu lingkungan, sehingga Al Qur’an menjadi inspirasi dalam membumikan cinta terhadap lingkungan alam sekitar. Ekoteologi lebih digali dalam tataran praksis agar Al-Qur’an benar-benar membumi dalam lingkungan. 

Ini diperlukan transformasi ilmuwan yang tidak hanya mahir dalam tilawah, qiraah, hafalan, tulisan, syarhil, pelibatan ilmuwan lain dalam menggali Al-Qur’an dalam sudut sains dan teknologi bisa di bidang kimia, fisika, astronomi, kedokteran dan lainnya.

Sehingga penanaman dan penggalian ilmu dalam Al-Qur'an pada generasi muda tidak hanya bisa membaca tapi juga memahami, menggali, mengkaji dan menemukan IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi).

 

Dr. H. Nur Ahmad Ghojali S.Ag MA 

Analis Kebijakan Ahli Madya 

Kanwil Kemenag DIY


User Photo

Penulis: Bramma Aji Putra
Editor: Bramma Aji Putra
Sudah dibaca: 105

Ikuti Kami

Website Resmi Kemenag DIY

Sarana