- Jumat, 27 Februari 2026
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari)
Budaya kerja merupakan fondasi kokoh bagi keberhasilan institusi kantor. Dalam dunia kerja yang kompetitif dan kompleks, harus tetap berpegang pada nilai Islam bukanlah suatu kelemahan, melainkan sumber kekuatan yang progresif.
Islam tidak membuat garis pemisah antara ibadah dan aktivitas kerja. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memerintahkan manusia untuk bekerja, beramal dengan sungguh-sungguh:Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu..." (QS. At-Taubah: 105).
Ayat ini menjadi pondasi penting bahwa bekerja bagian dari ibadah dan amal shalih. Bekerja berlandaskan ibadah baik sebagai pengadministrasi, pemegang jabatan struktural maupun fungsional. Budaya kerja dalam Islam mencakup diantaranya keIkhlasan dan amanah, setiap amal harus dilandasi dengan niat yang tulus karena Allah (QS. Al-Bayyinah: 5), dan dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Pimpinan ataupun pegawai/karyawan wajib menjaga amanah baik secara moral, profesional, akuntabel.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang jika ia bekerja, ia menyempurnakannya (itqan).” (HR. Al-Baihaqi).
Budaya kerja menjadi pilar penting untuk menjaga profesionalisme, integritas, dan kesuksesan kantor.
Prinsip yang harus dilakukan mendorong setiap Sumber Daya Manusia memiliki etos untuk bekerja keras (al-jiddiyah), kerja cerdas (al-fahm wal hikmah), Kerja tuntas (itqan), Kerja ikhlas (al-ikhlas).
Dalam pelaksanaan budaya kerja harus mengedepankan mutu layanan dan tanggung jawab terhadap masyarakat, bangsa dan negara.
Dr. H. Nur Ahmad Ghojali M.A
Analis Kebijakan Ahli Madya
Kanwil Kemenag DIY