Menginspirasi K/L Gulirkan Beasiswa Santri, Ini Filosofi PBSB


Menginspirasi K/L Gulirkan Beasiswa Santri, Ini Filosofi PBSB Menginspirasi K/L Gulirkan Beasiswa Santri, Ini Filosofi PBSB
Kategori : INFORMASI
Tanggal : 2020-11-05 08:30:27

Makassar (Kemenag)--Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) digagas Kementerian Agama sejak tahun 2005. Program ini masih terus berlangsung hingga hari ini dan telah menginspirasi kementerian atau lembaga (K/L) lain untuk memberikan perhatian kepada santri dan pesantren. Demikian dilansir dari kemenag.go.id.

Salah satu yang ikut menggawangi dan mengembangkan program ini adalah sosok yang saat ini diberi amanah Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Selatan, Khaerani. Dia  menangani program ini selama lima tahun, pada rentang 2006 – 2011 saat menjadi pejabat Eselon III di Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren.

Menurutnya, ada dua filosofi pemberian beasiswa untuk santri dalam PBSB. "Ini saya sampaikan agar adik-adik mahasantri PBSB mengerti sejarah dan filosofi yang diusung Kementerian Agama untuk santri," terangnya pada acara Pembinaan Moderasi Beragama bagi Mahasantri PBSB di Makassar, Rabu (4/11).

"Pertama, PBSB merupakan program afirmasi bagi santri yang berprestasi," imbuhnya.

Khaeroni menjelaskan, akses pendidikan santri untuk masuk ke perguruan tinggi  terbaik di Indonesia sangat terbatas. "Sangat sedikit santri yang bisa menembus ujian masuk perguruan tinggi negeri favorit. Jadi beasiswa ini benar-benar mengafirmasi para santri agar bisa merasakan belajar di kampus terbaik," terangnya.

"Kedua, beasiswa ini diberikan dengan harapan agar ke depan lahir intelektual-intelektual seperti Ibnu Sina, al-Farabi, al-Jabbar, Habibie dari pesantren," tegasnya.

Kakanwil bercerita, diskusi pengembangan PBSB saat itu terfokus pada semangat mendorong para santri untuk menjadi ilmuan yang bukan saja menguasai agama dengan baik, tapi juga  sanis dan ilmu-ilmu umum yang mumpuni.

Khaerani yakin, dengan dua filosofi ini para mahasantri PBSB ke depan akan semakin dibutuhkan bangsa. "Bangsa ini membutuhkan pribadi-pribadi yang santun, berakhlakul karimah, dan cinta pada negeri. Dan itu ada pada pribadi santri," terangnya.

Menurutnya, keseharian dan pola pendidikan santri di pondok pesantren menghasilkan output yang santun dan berakhlak. "Santri ini dididik dengan kesantunan, dan tradisi-tradisi yang melembutkan hati, misalnya shalawatan. Jadi tidak heran jika hasilnya adalah pribadi yang lembut," terangnya.

Acara ini dibuka Dirjen Pendidikan Islam, M Ali Ramdhani. Hadir,  Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan, para mahasantri PBSB yang belajar di UIN Makassar dan Ma'had Aly As'adiyah Makassar.

(sumber: kemenag.go.id)

Kontributor : MAGANG
Editor : Bramma Aji Putra
Dibaca : 108

Bagikan