Sehat Tanpa Daging


Sehat Tanpa Daging Sehat Tanpa Daging
Kategori : INFORMASI
Tanggal : 2020-11-04 13:44:34

Sukhakamani bhutani, Yo dandena na himsati, Attano sukhamesano, Pecca so labhate sukham Jika seseorang ingin bahagia hidupnya dengan tidak menyiksa makhluk lain, yang juga mendambakan kebahagiaan, maka akan memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan selanjutnya. (Dhammapada, 132)

Hidup bahagia merupakan dambaan setiap umat manusia. Bahagia memiliki tubuh yang sehat. Terpenuhinya asupan makanan yang baik merupakan penopang tubuh yang sehat. Menjadi kebiasaan sebagai manusia untuk mencukupi kebutuhan makan dengan Empat Sehat Lima Sempurna, yakni: Nasi, Lauk, Sayur, Buah, dan Susu. 

Dalam hal pemenuhan kebutuhan lauk sebagai sumber protein, dapat diperoleh dari protein nabati (tumbuhan) maupun protein hewani (daging dan ikan). Pilihan atas pemenuhan kebutuhan protein dari lauk yang dikonsumsi tergantung pada aspek ekonomi dan juga aspek motivasi setiap orang. 

Konsumsi daging atau ikan bagi orang yang berkecukupan secara ekonomi menjadi biasa, sedangkan bagi orang yang tidak memiliki ketercukupan dalam ekonomi menjadi luar biasa. Namun dalam beberapa hal, terdapat orang yang harus memilih memenuhi kebutuhan protein dari nabati walaupun memiliki ketercukupan secara ekonomi. Hal itu dapat terjadi karena menyangkut masalah kesehatannya. 

Sebagai umat Buddha, pilihan dalam mengonsumsi daging sebagai sumber protein perlu memperhatikan beberapa hal, di antaranya adalah  kesadaran bahwa tidak melihat, tidak mendengar, atau tidak mengetahui secara langsung makhluk hidup itu diambil dagingnya untuk dikonsumsi. Dalam tiga hal itulah daging dapat dikonsumsi. 

Pada saat umat Buddha memilih untuk tidak mengonsumsi daging, maka yang perlu diperhatikan adalah kesadaran dalam melatih diri untuk pengendalian nafsu keingingan. Inilah yang kemudian dapat disebut penentuan pilihan dari aspek motivasi. 

Benar bahwa umat Buddha diajarkan untuk mengembangkan cinta kasih (metta) dan kasih sayang (karuna) kepada semua makhluk hidup, dengan menjalankan tekad berlatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup (panatipata veramani sikkhapadam samadiyami). Namun, bukan berarti bahwa orang yang mengkonsumsi daging tidak memiliki cinta kasih dan kasih sayang. Karena itu, penting adanya pemahaman yang baik terhadap praktik Buddha Dhamma, bahwa tidak mengoonsumsi daging merupakan salah satu bentuk pengembangan dari cinta kasih dan kasih sayang melalui visualisasi atas penderitaan hewan yang diambil dagingnya.

Umat Buddha diberikan kebebasan untuk memilih makanan yang akan dikonsumsinya, pilihan tersebut sepenuhnya tergantung pada pribadi masing-masing baik itu mengonsumsi daging atau tidak. Atas dasar pemahaman pilihan makanan tersebut, menjadi sangat penting untuk tidak terlalu kritis terhadap orang lain terkait dengan apa yang sudah menjadi pilihannya. Apapun makanan yang dikonsumsi adalah untuk membentuk tubuh yang sehat.

Guru Agung Buddha mengajarkan bahwa kesehatan merupakan berkah yang patut dijaga. Melalui tubuh yang sehat seseorang dapat memberikan makna atas kehidupan yang dijalankannya. Dalam kondisi yang sehat seseorang dapat melakukan banyak kebajikan untuk merealisasikan tujuan kehidupan yang termulia, yakni pembebasan. Karena itulah, bagi seseorang yang memilih untuk tidak mengonsumsi daging akan tetap sehat karena kebutuhan proteinnya dapat terpenuhi melalui makanan dari tumbuhan sebagai sumber protein nabati.

“Selamat hari Vegetarian 1 November”, bagi yang melaksanakan praktik kehidupan tidak mengonsumsi daging, tetap sehat tanpa daging.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)

(sumber: kemenag.go.id)

Kontributor : MAGANG
Editor : Bramma Aji Putra
Dibaca : 100

Bagikan