Mengenal Ketua Kloter 25-SOC Tejo Katon, Dokter yang Mengabdi di Kemenag


Mengenal Ketua Kloter 25-SOC Tejo Katon, Dokter yang Mengabdi di Kemenag dr. H. Tejo Katon (dua dari kanan) saat ini sedang bertugas di Tanah Suci.
Kategori : KANWIL
Tanggal : 2019-08-05 09:01:54

Makkah (Inmas DIY)—Nama lengkapnya dr. H. Tejo Katon, S.Si, MBA, MM. Baginya menjadi Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI) untuk jamaah haji asal Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan tugas yang pertama kali dijalaninya. 

Dokter yang sehari-hari bertugas di Kantor Wilayah Kementerian Agama D.I. Yogyakarta itu, saat ini ditugaskan sebagai TPHI untuk melayani jamaah haji kloter 25-SOC yang jamaahnya gabungan dari Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman.

Pelayanan terhadap jamaah haji Indonesia sudah dianggapnya menjadi bagian dari ibadahnya sejak dr. Tejo Katon bertugas sebagai petugas haji tahun 2013. “Bagi saya, pelayanan, pembinaan dan perlindungan terhadap jamaah haji sangat penting sekali serta keberadaan petugas sangat sekali dirasakan oleh jamaah sehingga tugasku adalah ibadahku,” katanya.

Ia pun sebagai dokter punya strategi khusus agar dapat tetap bisa melayani, membina dan memberikan perlindungan terhadap jamaahnya walaupun saat ini tidak bertugas sebagai Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI).

“Jadi apapun kita harus siap, pertama kali tugas sebagai petugas kesehatan, pernah sebagai ketua regu (karu) bahkan sebagai jamaahpun pernah dan sekarang diamanahi sebagai TPHI,” katanya. Ia menyadari bahwa perhatian yang didasari perencanaan yang baik menjadi kunci utama dalam pelayanan, pembinaan dan perlindungan kepada jamaah haji.

Ia bersyukur kepada Allah SWT karena meskipun belum lama mengenal, tim kloter 25 SOC yang dipimpinnya sangat kompak dalam memberikan pelayanan. “Kami bisa mengerti dan memahami tupoksi masing-masing, saling mengisi dan mensupport satu sama lain, bahkan yang petugas daerahpun sangat terampil dan sigap serta entengan untuk membantu tugas kita demi satu tujuan kita yaitu jamaah haji yang sehat dan mendapatkan haji mabrur,” katanya.

Saat mendaftar di Kementerian Agama DIY, Tejo Katon bukan sebagai dokter, melainkan sebagai sarjana statistik. Namun ketika ketahuan bahwa berpendidikan kedokteran, maka Tejo Katon, diminta untuk menjadi dokter di Unit Kesehatan Kanwil Kementerian Agama DIY pada tahun 2010.

"Waktu itu sebenarnya saya mengantar adik saya yang satu tahun lalu wafat bertepatan dengan sekitar seminggu saya pulang haji tahun 2018 kemarin. Kami memang sudah lama yatim piatu sehingga pada saat itu tahun 2008 saat ada lowongan PNS di Kementerian Agama DIY yang kebetulan ada formasi guru untuk adik saya, saya antar adik saya mendaftar," kenang dr. Tejo sambil mengingat masa-masa indah bersama mendiang adik bungsunya yang sudah satu tahun lalu mendahului menghadap Allah SWT.

“Saat mendaftar tiba-tiba adik saya bilang, mas ada formasi statistik lho, coba saja ndaftar siapa tahu diterima," kata dr. Tejo disela kegiatan melayani jamaah haji di sektor 11 Makkah al mukarahmah. "Ternyata kehendak Allah SWT saya diterima, adik saya tidak diterima," papar dr. Tejo Katon yang ternyata jebolan Statistik Universitas Gadjah Mada.

Lebih lanjut dr. Tejo menceritakan, saat diterima trus diwawancara di ruang Kabag Tata Usaha waktu itu ditanya, kok saya kelihatan tua sendiri karena yang lain masih freshgraduate. " Saat ditanya sebelum ini kerja dimana, saya jawab saya nyuci pak, memang waktu itu saya punya laundry. Tapi setelah mengumpulkan berkas terlihatlah bahwa di KTP tersebut pekerjaan saya dokter,” kenang  dr. Tejo Katon yang juga lulusan dari fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini. Akhirnya jadilah saya praktek resmi di Kanwil Kementerian Agama DIY dengan SIP yang saya urus dengan mencabut salah satu SIP saya di RS swasta, sebelum diterima PNS, saya sudah bekerja di tiga pelayanan kesehatan swasta, " kata dr. H. Tejo Katon, S.Si, MBA, MM yang sekarang menjabat sebagai Ketua Badan Pengawas RSU Mitra Paramedika Yogyakarta. " Kita merintisnya dari nol, dari praktek dokter, berkembang jadi rumah sakit khusus ibu dan anak dan sekarang alhamdulillah menjadi RSU, " jelas jebolan Master of Bussines Administration dan Magister Manajemen ini. 

Suami dari dr. Hj. Rofiana Komalasari, MMR ini memang sejak muda sangat aktif di organisasi,  ada 15 organisasi yang saat ini beliaunya menjadi ketuanya, bahkan saat ini beliau menjabat sebagai ketua takmir masjid al-fath seturan yogyakarta dan Dosen luar biasa Universitas Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ketika ditanya tentang bagaimana membagi waktunya, dr. Tejo katon hanya tersenyum.

”Ya, kenyataannya semua jalan tuh, sore saya masih bisa praktek, masih bisa main dengan anak-anak, masih bisa ngisi pengajian, trus pas sabtu disaat kantor libur saya masih bisa ngajar dan sebagainya, intinya kita disiplin dengan waktu dan berusaha memudahkan urusan orang lain, dekat dengan anak yatim piatu dan dhuafa, insyaAllah akan Allah SWT mudahkan semua urusan kita, jangan merasa menjadi orang pintar tapi terus belajar dan belajar," ujar ayah dari Janeeta Zayna Fazila Rofy dan Fauzia Zahira Syafia Rofy yang setiap tahun berusaha untuk reuni dengan sekitar 400 anak yatim piatu dan dhuafa binaannya. 

" Makanya saat diberikan amanah sebagai TPHI yang harus melayani jamaah haji, saya terus belajar dari senior-senior yang sudah berpengalaman menjadi TPHI supaya bisa melayani, membina dan melindungi jamaah haji. Doakan saya bisa istiqomah, pungkas dr. H. Tejo Katon menutup pembicaraan.

Kontributor : Bramma Aji Putra
Editor : Bramma Aji Putra
Dibaca : 931

Bagikan