Buka STQ XXV, Menag: Mari Jaga Tujuan Mulia STQ


Buka STQ XXV, Menag: Mari Jaga Tujuan Mulia STQ Menag Lukman Hakim Saifuddin sesaat sebelum membuka gelaran STQ Nasional di Pontianak, Sabtu (29/6) malam.
Kategori : KANWIL
Tanggal : 2019-06-29 21:31:04

Pontianak (Inmas DIY) -- Rangkaian Pembukaan STQ XXV Tingkat Nasional Tahun 2019 dibuka langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan dihadiri seluruh Gubernur se-Indonesia, Dirjen Bimas Islam Kemenag RI dan Kakanwil Kemenag se-Indonesia. Bertempat di Taman Alun Kapuas Kota Pontianak, Sabtu (29/6) malam. 

Dari DIY tampak hadir Wagub Sri Paduka Paku Alam X dan Kakanwil Kemenag DIY Edhi Gunawan, Plt. Kabiro Bina Mental Spiritual Setda DIY Arofa Noor Indriani dan seluruh kafilah DIY. 

Dalam sambutannya, Menag menilai kegiatan ini sangat unik karena melibatkan unsur budaya dan kearifan lokal seperti karnaval, pameran hasil industri kecil seminar dekorasi artistik daerah dan lain sebagainya. "Ada dialektika antara nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai budaya sehingga nampak lah watak Islam rahmatan lil alamin," tandas Menag. 

"Inilah yang membedakan antara corak Islam di Indonesia dengan di negara-negara muslim dalam bahasa budaya. Corak Islam Indonesia telah menggambarkan tentang sifat pelaksanaan nilai-nilai agama yang paling mendasar yaitu moderasi beragama atau dalam istilah kita Islam wasathiyah," sambungnya. 

"Sejarah Islam di Indonesia telah menunjukkan tentang bagaimana nilai-nilai Islam dalam sikap dan perilaku masyarakat yang seimbang. Termasuk sikap toleransi, gotong royong, kebersamaan, tolong-menolong saling menyayangi, saling menghormati perbedaan, menjalin persaudaraan dan lain sebagainya," urai Menag. 

Sikap dan perilaku tersebut, masih menurut Menag, tidak dapat dilepaskan dari pemahaman dan implementasi nilai-nilai universal Alquran dan nilai-nilai budaya yang berkembang di masyarakat. "Dalam konteks ini tepatlah kiranya Provinsi Kalimantan Barat khususnya kota Pontianak, menjadi tuan rumah STQ nasional," ujarnya. 

Menurutnya, Pontianak sarat akan kearifan lokal; dari keragaman etnis, agama dan budaya. "Sejarah telah membuktikan bahwa Kalimantan Barat sangat dikenal dengan corak masyarakatnya yang rukun damai dan guyub ditengah banyaknya perbedaan sosial antar etnis," papar Menag. 

Indonesia, menurut Menag, mungkin satu-satunya negara muslim di dunia yang paling sering menyelenggarakan kegiatan musabaqah Al-Qur'an secara rutin mulai dari tingkat desa sampai tingkat nasional, yang menunjukkan kecintaan masyarakat terhadap kitab suci Alquran.

"Bahkan di berbagai daerah telah berkembang pesat berdirinya pondok Tahfidz Al-Qur'an, juga di media-media seperti TV, radio dan media sosial banyak dibutuhkan acara atau program-program yang berkaitan dengan tilawah Al Quran khususnya di moment-moment keagamaan," terang Menag lagi. 

Lebih jauh Menag menilai, hal yang juga lebih penting adalah bagaimana ajaran dan nilai-nilai Al-Qur'an dapat diajarkan kepada anak-anak dan generasi muda agar memiliki akhlak sehari-hari sebagaimana yang diajarkan oleh Alquran. "Di era digital saat ini yang beresiko menjauhkan generasi masa kini dari kitab suci karena sibuk dengan peranti yang memanjangkan jari-jemari," kata Menag. 

"Rasulullah SAW pernah mengingatkan kita semua bahwa suatu saat Alquran tinggal tulisannya saja karena dijadikan sebatas perhiasan keindahan ruangan atau menjadi mahar dalam perkawinan. Jikapun dibaca, itu hanya untuk kepentingan perlombaan semata. Untuk meraih prestise saja bahkan ada juga sebagian orang yang menjadikan Alquran sebagai alat propaganda untuk memecah belah dan kepentingan kelompoknya. Memperlakukan Al-Qur'an tidak semestinya seperti itu, akan menjadi petaka bagi kita semua. Semoga kita terhindar dari semua itu," harap Menag. 

Terkait dengan penyelenggaraan event musabaqah Alquran tingkat internasional, Indonesia sangat membanggakan di berbagai negara. "Tahun 2019 hingga bulan ini putra-putri terbaik kita telah meraih sedikitnya 7 kejuaraan internasional bergengsi," terang Menag. 

"Apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada mereka yang telah mengharumkan nama baik bangsa dan negara kita di mata dunia internasional melalui Alquran," paparnya.

Menurut Menag, deretan prestasi itu tentu membanggakan, namun prestasi di bidang Alquran tidak boleh berhenti hanya pada kemampuan membaca, tapi harus mampu mengimplementasikan dan mengamalkan kandungan ayat-ayat suci Al-Qur'an dalam bentuk produk-produk peradaban dan ilmu pengetahuan.

"Melalui STQ Nasional kita kobarkan semangat untuk melakukan perbaikan para ahli-ahli Alquran yang menjayakan anak Indonesia di panggung internasional. Saya mengajak mari bersama-sama menjaga tujuan mulia STQ Nasional," pungkas Menag. (fzi/bap)  

Kontributor : Bramma Aji Putra
Editor : Bramma Aji Putra
Dibaca : 470

Bagikan