Penutupan Pengajian Pejabat-Aparat Pemda DIY, Waryono Sampaikan Makna Kenakan Ihram


Penutupan Pengajian Pejabat-Aparat Pemda DIY, Waryono Sampaikan Makna Kenakan Ihram
Kategori : KANWIL
Tanggal : 2019-12-04 11:02:31

Yogyakarta (Inmas DIY)—Salah satu contoh persatuan luar biasa adalah saat wukuf puncak ibadah haji di Arafah. Sebab semua jemaah haji mengenakan pakaian putih polos tanpa jahit yang dinamakan ihram. Hal ini bermakna manusia diminta untuk menanggalkan semua baju, pangkat, jabatan dan atributif lainnya saat ingin dekat dengan Tuhan.

Hal ini disampaikan Dr. KH. Waryono Abdul Ghofur, Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga pada Pengajian Pejabat dan Aparat Pemerintah Daerah DIY, Rabu (4/12) di Kanwil Kementerian Agama DIY Jalan Sukonandi 8 Yogyakarta. Hadir dalam kesempatan ini Gubernur DIY yang diwakili Asisten Pemberdayaan Sumberdaya Masyarakat Pemda DIY Arofah Noor Indriani, Kakanwil Kemenag DIY Edhi Gunawan, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah DIY. Juga seluruh jajaran eselon lll dan IV Kemenag DIY dan sekira tujuh ratus hadirin yang memadati halaman depan Kemenag DIY.

Penutupan Pengajian Pejabat-Aparat Pemda DIY, Waryono Sampaikan Makna Kenakan Ihram

Penutupan Pengajian Pejabat-Aparat Pemda DIY, Waryono Sampaikan Makna Kenakan Ihram

“Ketika puncak haji kita mengenakan ihram. Itu artinya kita melepas semua jenis dan merk baju kita,” tandas Waryono. Lebih jauh Waryono menyitir pendapat Ali Syari’ati, pemikir Islam kontemporer asal Iran, bahwa dengan ihram kita diminta melepas lima ‘pakaian’.

“Yang pertama kita melepas pakaian anjing. Kita tahu anjing ialah salah satu binatang yang setia dengan majikan, syaratnya suplai makanan tersedia. Maka kesetiaan kita kepada negara seharusnya bukanlah seperti kesetiaan seekor anjing,” ungkapnya. “Jika gaji atau tunjangan agak terlambat, ya kita anggap biasa saja, jangan lantas mengurangi kinerja,” tanbahnya.

Yang kedua, menurutnya, ihram mengingatkan manusia melepas pakaian serigala. “Serigala itu biasanya baru punya keberanian kalau berkelompok, jarang ia mau bekerja keras sendiri,” katanya.

Ketiga, menanggalkan pakaian bebek. “Bebek ini kalau kita perhatikan termasuk hewan yang tidak bertanggung jawab yakni bertelur tapi tidak mau menetaskannya,” jelas Waryono. “Ibarat manusia hanya mau kawin, punya anak tapi enggan merawat anak dengan penuh perhatian,” lanjutnya lagi.

Keempat, menanggalkan pakaian kambing. “Kambing itu punya kebiasaan tiap kali makanan habis langsung mengembik. Ketika sudah dilepas dari kandangnya, rebutan keluar. Etika ditabrak, semua rambu dilanggar, janganlah kita menjadi manusia model begini,” urainya.

Terakhir kelima, menanggalkan pakaian babi. “Jalannya lurus tanpa melihat kiri-kanan, itu artinya tidak fleksibel. Bahkan babi makan hanya untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan anak-anaknya,” ingat pria kelahiran Cirebon ini.

Sambutan Gubernur

Sebelumnya, Arofah Noor Indriani yang membacakan sambutan Gubernur DIY mengajak kepada seluruh yang hadir untuk melakukan muhasabah, baik pribadi maupun sebagai aparatur negara. “Marilah kita berorientasi pada kepuasan penerima pelayanan untuk mewujudkan kesejahteraan,” tandasnya. 

“Kerja tidaklah sekadar kerja, tapi kerja adalah ibadah, amanah dan rahmat,” sambungnya lagi.

Pengajian pejabat dan aparat, menurut Gubernur, dapat menjadi sarana pembinaan dan wahana peningkatan keimanan. “Mari kita senantiasa berfastabiqul khoirat, untuk menjadikan bangsa ini lebih terhormat,” pungkasnya. (bap)

Kontributor : Bramma Aji Putra
Editor : Bramma Aji Putra
Dibaca : 636

Bagikan