Pertemuan Pakar Falak MABIMS, Menag Lukman: Perlu Dibangun Konsensus Bersama


Pertemuan Pakar Falak MABIMS, Menag Lukman: Perlu Dibangun Konsensus Bersama Menag Lukman Hakim Saifuddin didampingi Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin dan Kakanwil Edhi Gunawan saat membuka secara resmi kegiatan. (foto: bap)
Kategori : KANWIL
Tanggal : 2019-10-09 13:18:19

Yogyakarta (Inmas DIY)—Pukulan gong dari Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin didampingi Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin dan Kakanwil Kemenag DIY Edhi Gunawan menandai dibukanya Pertemuan Pakar Falak Negara Anggota Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) di Yogyakarta, Rabu (9/10).

Kegiatan yang dimulai sejak Selasa (8/10) ini akan berakhir pada Kamis (10/10). Dalam sambutannya Menag Lukman menandaskan bahwa kemaslahatan ilmu falak harus mampu mewujud. “Apakah melihat hilal dengan alat bantu dapat dibenarkan dalam fiqh?” ungkap Menag setengah bertanya.

Pertemuan Pakar Falak MABIMS, Menag Lukman: Perlu Dibangun Konsensus Bersama

Pertemuan Pakar Falak MABIMS, Menag Lukman: Perlu Dibangun Konsensus Bersama

Pertemuan Pakar Falak MABIMS, Menag Lukman: Perlu Dibangun Konsensus Bersama

Menag lantas menganalogikan dengan manasik haji. “Dulu mungkin tidak terbayangkan thawaf di atas Kakbah, sekarang kita bisa thawaf di lantai 2 sampai paling atas,” sambung putra mantan Menag KH Saifuddin Zuhri (alm) itu. “Malah sekarang ada juga yang pakai skuter, minicar dan sebagainya,“ imbuhnya lagi.

“Kita wukuf di Arofah juga dengan sofa yang nyaman dan sepertinya tidak ada perdebatan fiqh terkait hal itu,” ungkapnya lagi.

Maka menurut Menag, semangat membangun konsensus perlu dibangun. “Perlu membangun konsensus yang sarat kearifan menyikapi keragaman,” tandasnya lagi. “Kami di Indonesia, pemerintah melaksanakan kewajibannya dalam penentuan 1 Ramadhan, 1 Syawal dan sebagainya melalui sidang isbat meski tidak mengikat,” urainya lagi.

Penentuan melalui sidang isbat cukup penting agar ada kepastian perayaan Idul Fitri. Sebab menurut Menag, Idul Fitri kini menjadi festival kebudayaan yang luar biasa. “Menentukan Idul Fitri sama halnya menentukan banyak hal kompleks seperti terkait hari libur nasional, arus mudik, libur ASN dan sebagainya,” jelas Menag lagi.

Sebelumnya, Dirjen Muhammadiyah Amin menyebut jika pertemuan ini memiliki dua dimensi. “Dua dimensi itu adalah dimensi syariah dan dimensi astronomi,” ungkapnya. Dimensi syariah, jelasnya, menunjuk pada suatu ibadah, yang merujuk Alquran, hadits dan ijtihad ulama. “Sementara dimensi astronomi merujuk pada ilmu pengetahuan astronomi itu sendiri,” katanya. 

Ditambahkan Dirjen, acara serupa pernah dilakukan tiga kali yaitu tahun 2016 di Malaysia, 2017 di Jakarta, dan 2018 di Bali. “Tema kegiatan kali ini Perkembangan Visibilitas Hilal Dalam Persfektif Sains dan Fikih,” ujar Dirjen. Peserta berasal dari Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia dan Singapura terdiri dari akademisi dan pakar ilmu falak yang berasal dari ormas Islam, BMKG, LAPAN, Bosscha ITB dan planetarium Jakarta serta Asosiasi Dosen Falak UIN. Juga tampak hadir dalam kesempatan ini jajaran Kepala Kankemenag Kabupaten/Kota se-DIY.

Usai membuka acara, Menag Lukman melihat berbagai alat bantu rukyatul hilal didampingi Ketua Badan Hisab Rukyat DIY Muthoha Arkanuddin. (bap)

Kontributor : Bramma Aji Putra
Editor : Bramma Aji Putra
Dibaca : 270

Bagikan