Belajar Vulkanologi dan Sejarah, MAN 3 Sleman Kunjungi Museum Gunung Merapi


Belajar Vulkanologi dan Sejarah, MAN 3 Sleman Kunjungi Museum Gunung Merapi
Kategori : MADRASAH
Tanggal : 2019-10-03 09:41:28

Sleman (MAN 3 Sleman) - Mendengar kata “Belajar” banyak dari kita yang tertuju pada proses pembelajaran di ruang kelas. Sebuah ruang yang biasanya persegi panjang dengan meja, kursi dan papan tulis. Dimana ada guru yang menjelaskan dan ada siswa yang diam mendengarkan. Sebagian lagi ada yang mengidentikan belajar adalah proses membaca buku, menulis materi atau mengerjakan PR dari sekolah. Padahal jikalah kita amati lebih dalam, belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas. Tidak hanya dilakukan oleh seorang guru yang berprofesi sebagai “guru” dan tidak melulu belajar dari buku. Tidak hanya dilakukan disaat mengenakan seragam sekolah.

Pembelajaran di luar kelas sangat perlu untuk memberikan pengalaman dan suasana baru dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini yang mendorong MAN 3 Sleman sebagai pioneer madrasah berprestasi di Yogyakarta untuk terus melakukan innovasi dalam proses pembelajaran, salah satunya yaitu pembelajaran di luar kelas. Pembelajaran di ruang kelas kali ini tidak seperti biasanya yang hanya dilakukan di dalam sekolah bahkan sekitar kelas. MAN 3 Sleman mengadakan kunjung Museum Gunung Merapi, Selasa (1/10) yang berada di Jalan Kaliurang Km 14, Banteng, Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta untuk belajar tentang vulkanologi dan sejarah.

Belajar Vulkanologi dan Sejarah, MAN 3 Sleman Kunjungi Museum Gunung Merapi

Belajar Vulkanologi dan Sejarah, MAN 3 Sleman Kunjungi Museum Gunung Merapi

Kegiatan yang diikuti oleh seluruh siswa kelas X berlangsung pukul 12.00 sampai 15.00 WIB dan masih merupakan bagian dari Mayoga Super Camp yang sudah dimulai sejak sepekan yang lalu. Selanjutnya, siswa belajar beberapa hal tentang Museum Gunung Merapi. Pertama,  informasi ilmiah kegunungapian, kegempaan dan gerakan tanah yang merupakan proses dinamika geologi, dicerminkan diantaranya dalam informasi model pembentukan, mekanisme terbentuknya maupun proses-proses yang menyertainya. Kedua,  informasi fenomena gunung api terbentuk sebagai hasil proses-proses geologi, yang tampil dipermukaan bumi diantaranya berupa bentang alam gunung api, struktur geologi gunung api, produk hasil letusan gunung api, dan produk-produk hasil proses lainnya.

Ketiga, informasi mitigasi bencana gunung api, gempa bumi, tsunami, gerakan tanah yang ditampilkan dalam bentuk informasi sistem monitoring, penelitian dan pengamatan, sistem peringatan dini, dan upaya mitigasi bencana diantaranya menyangkut sistem penyelamatan masyarakat terhadap ancaman bahaya letusan gunung api, kegempaan dan gerakan tanah.

Keempat, informasi sumberdaya gunung api, sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat, pengembangan infra-struktur dan lainnya. Kelima, informasi aspek sosial budaya diantaranya menyangkut kehidupan, budaya/tradisi, mitos dan lainnya yang berkaitan dengan lingkungan dan keberadaan suatu gunung api.

Failasufah. M.Pd selaku guru BK sekaligus panitia kegiatan ini menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bagus, karena selain sebagai model belajar yang berbeda dengan biasanya juga sebagai sarana rekreasi edukatif bagi siswa sehingga siswa tidak merasa bosan belajar di kelas. “Ini sangat bagus, siswa dapat berinteraksi dengan alam, dengan masyarakat sehingga belajar dengan cara mendekat kepada sumbernya, siswa dapat mengamati langsung dan belajar pada ahlinya. Juga sebagai sarana rekreasi edukatif bagi siswa supaya tidak bosan belajar terus di kelas,” terang Faila.

Shafa Kamila Ramadhani siswa kelas sepuluh IPA 3 juga menyampaikan kesannya tentang Museum Gunung Merapi “Museumnya bagus, bisa buat belajar dan buat rekreasi, kita jadi tahu ilmu tentang kegunungapian, juga sejarahnya secara ilmiah. Saya orang Sulawesi dan baru pertama kali ke sini,” ungkapnya. (Ang)

Kontributor : MAN3SLEMAN
Editor : Titik Nur Farikhah
Dibaca : 299

Bagikan