Diskusi Panel Kemenag DIY, Para Pakar Ungkap Langkah Menag Sudah Tepat


Diskusi Panel Kemenag DIY, Para Pakar Ungkap Langkah Menag Sudah Tepat
Kategori : KANWIL
Tanggal : 2021-07-30 14:07:40

Yogyakarta (Humas Kemenag DIY)—Tagline Kemenag Yogya MEMPESONA yang diusung Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama D.I.Yogyakarta, Dr. H. Masmin Afif M.Ag tidak hanya semboyan semata. Hal itu diwujudkan dengan digelarnya Diskusi Panel dengan tema Konstitusi, Minoritas dan Agama serta Peran Negara: Tinjauan Sosiologi, Hukum dan Politik, menghadirkan para pakar di bidangnya, Jumat (30/07/2021). Mereka adalah Prof.Dr.Phil.Al Makin,M.A (Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta), Prof. Drs. Purwo Santoso, MA, Ph.D (Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta), Achmad Munjid, MA, Ph.D (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta), dan Hakimul Ikhwan, M.A., Ph.D (Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta). Diskusi berlangsung secara daring dipandu moderator Kepala Bagian Tata Usaha Kemenag DIY, H. Arief Gunadi, S.Ag, M.Pd.I. Diikuti jajaran Kepala Bidang, Pembimas, Kepala Kankamenag Kabupaten/Kota, Kasubbag pada Bagian Tata Usaha, dan Kasubbag TU Kankamenag Kabupaten/Kota se-DIY.

Menurut Kakanwil Masmin Afif, tujuan digelarnya diskusi ini bertujuan menyadarkan pentingnya membangun moderasi beragama, menghargai keberagaman dan merajut persaudaraan serta empati terhadap kelompok lain. “Hal tersebut sesuai tagline MEMPESONA yakni membangun moderasi, profesional, normatif, dan akuntabel,” ungkapnya. Yogyakarta disebut sebagai the city of tolerance. “Maka ‘toleransi’ merupakan kata kunci untuk terus kita dukung dan kembangkan,” ujar Kakanwil.

Diskusi Panel Kemenag DIY, Para Pakar Ungkap Langkah Menag Sudah Tepat

Dalam kesempatan paparan, Rektor UIN Suka Yogyakarta, Prof. Al Makin menyampaikan tentang Keragaman, Dialog dan Kerendahan Hati. “Kita harus mendidik diri sendiri, bahwa bangsa kita punya keragaman agama yang belum semuanya tersosialisasikan dengan baik di Indonesia,” ujarnya. “Menurut penelitian CRCS UGM, ada 1.300 kelompok agama di Indonesia,” imbuh Prof Al Makin. Kuncinya, lanjut Prof Al Makin, semua pihak harus mencari jalan tengah. “Perlu adanya kemauan membuka dialog dengan cara mengerti dan memahami umat lain, rendah hati terhadap kebenaran orang lain, membela kepentingan lain, reaching out, menawarkan diri atau menjangkau, serta kemauan kritik terhadap tradisi sendiri,” urainya.

Prof Al Makin mengakui jika pihaknya simpati dengan kebijakan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. “Apa yang dilakukan GusMen itu adalah wujud reaching out, mencoba menawarkan diri, menjangkau, menyapa kelompok lain, dan itu adalah sesuatu yang semestinya dilakukan negara kepada rakyatnya,” papar Al Makin.

Senada dengan Prof Al Makin, Rektor UNU Yogyakarta Prof. Purwo Santosa menyebut jika langkah Menag Yaqut yang memberi ucapan Selamat Hari Raya bagi umat Baha’i bisa diilustrasikan seperti olahraga. “Sepertinya lelah, karena memantik diskursus wacana, namun sebenarnya justru menyehatkan kita sebagai bangsa dan negara yang belajar demokrasi untuk mau menghormati kelompok minoritas,” ungkapnya.

Pandangan serupa disampaikan Achmad Munjid, MA, Ph.D. Menurutnya yang telah dilakukan GusMen adalah untuk membentuk masyarakat multikultural. “Kita disadarkan untuk mau dan mampu hidup berdampingan yang berbeda dengan kita,” katanya. Bahkan menurutnya, tidak hanya ucapan selamat hari raya karena negara harusnya bisa bergerak lebih jauh dari itu. “Menyampaikan selamat itu bentuk penghormatan. Dan ini menjadi tes berdemokrasi kita sehat atau tidak,” ungkapnya. (bap)

Kontributor : Bramma Aji Putra
Editor : Bramma Aji Putra
Dibaca : 98

Bagikan