Peringati 1 Muharram, MTsN 10 Sleman Ingatkan Kematian


Peringati 1 Muharram, MTsN 10 Sleman Ingatkan Kematian Tausiyah Kak Aris
Kategori : MADRASAH
Tanggal : 2019-09-06 16:25:33

Sleman (MTsN 10 Sleman)  - Tahun baru Islam tidak boleh hilang begitu saja dari ingatan pemeluknya. Diperlukan  agenda khusus untuk memperingatinya. Hal itu penting sebagai bentuk siar guna menggelorakan kembali semangat pengamalan ajaran Islam.

Memasuki Tahun Baru 1 Muharam 1441 Hijriah, MTsN 10 Sleman (Matsesa) menggelar pengajian Peringatan 1 Muharram dengan tajuk “Berhijrah Menuju Generasi Qurani."  Kegiatan berlangsung Kamis (5/9) bertempat di Dome MTsN 10 Sleman. Peringatan diikuti 360 peserta didik kelas 7, 8, 9, guru, dan pegawai.

Peringati 1 Muharram, MTsN 10 Sleman Ingatkan Kematian

Peringati 1 Muharram, MTsN 10 Sleman Ingatkan Kematian

Mewakili Kepala Madrasah, Wakil Kepala (waka) Urusan  Kesiswaan Sargiyono, S.Pd. mengungkapkan bahwa tahun baru hijriah bukan saatnya untuk berhura-hura, melainkan saat yang tepat untuk perbanyak doa dan koreksi diri. “Semoga ke depan langkah madrasah semakin maju dan berlimpah berkah Allah SWT, ” sambung Sargiyono..

Tausiyah disampaikan Muhammad Aris Kusdianto alias Kak Aris Pahlawan bertopeng. Kak Aris, Sang Pendongeng mengingatkan tentang kematian yang pasti akan tiba. Ada dua kategori saat maut menjemput yakni  penderitaan dan kebahagiaan. Bagi orang tak beriman, rasa sakit saat ajal menjemput tidak terkira seumpama tusukan 70 pedang di badan. Siksaan itu akan berlanjut hingga di alam kubur dan akhirat kelak. Sebaliknya, kematian adalah fase indah bagi orang beriman untuk bertemu dengan Rabb-Nya. Saat ajal menjemput pun sangat lembut seumpama satu helai rambut dicabut dari segenggam tepung. Ia kan tenang di alam barzah dan kebahagiaan menanti di akhirat kelak.

Dengan gaya atraktifnya, Kak Aris lebih jauh menjelaskan pentingnya kewajiban salat lima waktu. Tak hanya di yaumil hisab, amalan salat akan menentukan nasib manusia semenjak di alam kubur. Orang tak beriman akan menerima siksa yang sangat pedih. Ia menyesal karena di dunia melalaikan salat, sedekah, puasa, belajar AlQuran, dan perintah Allah lainnya. Tak ada guna teriakan minta dikembalikan ke dunia. "Cukuplah kematian menjadi pelajaran bagi kita," tandas Kak Aris.

Peserta mengikuti tausiyah dengan seksama seraya menggoreskan pena di atas kertas untuk membuat resume isi kajian. Pengajian yang digelar berlangsung mulai pukul 10.00 WIB dan berakhir saat azan duhur berkumandang. Dan salat pun segera ditegakkan. (nsw/tnf)

Kontributor : MTSN10SLEMAN
Editor : Titik Nur Farikhah
Dibaca : 207

Bagikan