Memperingati Hardiknas, Guru MTsN 9 Bantul Ikuti Sosialisasi Panduan Pemicuan Cuci Tangan Pakai Sabun


Memperingati Hardiknas, Guru MTsN 9 Bantul Ikuti Sosialisasi Panduan Pemicuan Cuci Tangan Pakai Sabun
Kategori : MADRASAH
Tanggal : 2021-05-07 19:33:34

Bantul (MTsN 9 Bantul)–Kamis (29/04/2021) salah satu Guru MTsN 9 Bantul, Gandes Aknissholikah, S.Pd. mengikuti Sosialisasi Panduan Pemicuan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) di Sekolah dan Madrasah via Zoom Meeting. Sebagai staf Kesiswaan di MTsN 9 Bantul, Gandes mewakili MTsN 9 Bantul untuk mengikuti sosialisasi tersebut. Kegiatan ini diadakan oleh Yayasan PLAN Internasional Indonesia dengan dukungan dari DFAT bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pelaksanaan sosialisasi bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei 2021 sehingga perayaan ini dapat kembali menekankan pentingnya CTPS bagi warga sekolah dan madrasah.

 

Sosialisasi dilaksanakan mulai pukul 09.00 dengan dihadiri narasumber, yaitu Dini Widiastuti sebagai Direktur Eksekutif Yayasan PLAN Internasional Indonesia, drg. R. Vensya Sitohang, M. Epid. dari Kementerian Kesehatan RI, Dr. H. A. Umar, M.A. dari Kementerian Agama RI, Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd. dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dan Silvia Anastasia Landa dari Yayasan PLAN Internasional Indonesia serta dihadiri pula oleh tim Penyusun Panduan Pemicuan CTPS di Sekolah dan Madrasah, yaitu Nur Apriatman dan Alfian Helmi.

 

Dalam sambutannya, Dini menjelaskan bahwa tujuan dari Sosialisasi Panduan Pemicuan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) di Sekolah dan Madrasah ini adalah untuk menghadapi persiapan kegiatan pembelajaran yang baru dimasa pandemi Covid 19. Ia berharap setiap warga sekolah dan madrasah dapat bersama-sama senantiasa cuci tangan memakai sabun dengan air yang mengalir.

 

Menurut Vensya, dalam menghilangkan kuman lebih baik dengan mencuci tangan pakaibsabun daripada menggunakan hand sanitazer. Dengan menggunakan sabun, bakteri dan lemak yang menempel pada kulit akan ikut terbilas itu pun harus menggunakan air yang mengalir karena jika dengan air yang tidak mengalir kotoran hanya akan tertinggal di permukaan air.

 

Umar menambahkan bahwa fasilitas untuk CTPS harus menyesuaikan wilayah masing-masing sesuai dengan kondisi wilayah tersebut. Bagi yang berada di wilayah kekurangan air bisa menggunakan fasilitas yang bisa menghemat air karena mencuci tangan tidak harus dengan air yang deras cukup dengan air yang mengalir.

 

Sri menjelaskan bahwa sarana CTPS yang ada di sekolah atau madrasah harus menyesuaikan dengan keadaan siswa dan sekolah seperti memiliki kesederhanaan desain, ukuran menyesuaikan tinggi badan anak, jumlah sarana menyeseuiakan jumlah siswa, penyediaan air bersih yang harus hemat, dan yang terpenting adalah pemeliharaan sarana.

 

“Pemeliharan menjadi sesuatu yang penting, anak-anak didorong untuk memahami pentingnya menjaga dan merawat suatu sarana sehingga dapat memperpanjang usia kemanfaatan sehingga penghematan pun dapat terlaksana,” tutur Sri. 

 

Untuk mewujudkan suksesnya CTPS, diterbitkan sebuah buku "Panduan Pemicuan CTPS di Sekolah dan Madrasah" yang dapat diunduh via online. Buku tersebut dapat membantu menyukseskan budaya CTPS guna menyongsong persiapan kegiatan pembelajaran baru. Menurut Nur Hasanah Rahmawati, S.Ag., M.M., selaku Kepala MTsN 9 Bantul, buku tersebut dapat menjadi acuan bagi warga sekolah dan madrasah untuk mewujudkan budaya CTPS sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan sehat. (gas) 

Kontributor : MTSN9BANTUL
Editor : Eko Triyanto
Dibaca : 72

Bagikan