Bidang Dikmad Gelar FGD, Kembangkan Kurikulum Berorientasi Industri


Bidang Dikmad Gelar FGD, Kembangkan Kurikulum Berorientasi Industri
Kategori : BIDANG/PEMBIMAS
Tanggal : 2021-05-07 14:12:50

Yogyakarta (Humas Kemenag DIY) – Kebutuhan akan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Madrasah sebagai lembaga pendidikan diharapkan mampu turut menyiapkan SDM yang handal. Kanwil Kemenag DIY terus mengembangkan kurikulum madrasah yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Hal tersebut ditegaskan Kepala Kanwil Kementerian Agama DIY, Drs. H. Edhi Gunawan, M. Pd.I. saat membuka focus group discussion (FGD) Jumat (7/5/2021) di Forriz Hotel Jalan Cokroaminoto. Menurut Edhi, lulusan madrasah tidak hanya perlu memiliki kemampuan akademik, tetapi juga harus mempunyai keterampilan yang bisa menjadi modal terjun ke dunia kerja.

Bidang Dikmad Gelar FGD, Kembangkan Kurikulum Berorientasi Industri

Bidang Dikmad Gelar FGD, Kembangkan Kurikulum Berorientasi Industri

“Kami berharap dengan adanya madrasah keterampilan akan membuat lulusan madrasah memiliki keterampilan yang mampu beradaptasi dengan dunia industri,” ungkapnya.

Sementara Kepala Bidang Pendidikan Madrasah, H. Muntholib, S.Ag. dalam laporannya menyebut kegiatan FGD diikuti peserta dari madrasah yang menyelenggarakan program keterampilan yang terdiri dari kepala madrasah, Waka kurikulum dan guru keterampilan. “Kegiatan dihadiri 35 peserta yang terdiri dari kepala madrasah, waka kurikulum dan kepala bengkel dari 11 madrash keterampilan,  SMK Indonesia, dan SMK 1 Bantul,” sebutnya. Ia menambahkan kegiatan FGD bertujuan menyamakan paradigm dalam mengembangkan kurikulum sesuai kebutuhan indsutri. “FGD ini bertujuan untuk menyamakan langkah dalam mengembangkan kurikulum agar match dengan kebutuhan industri,” jelas Kabid.

Hadir sebagai narasumber Rr. Ening Kaekasiwi Kepala Sekolah Menengah Teknologi Industri (SMTI) Yogyakarta. Ening menjelaskan proses SMTI meyakinkan agar dunia industri percaya dengan kemampuan siswa SMTI sehingga bersedia menjadi lokasi praktik kerja industri. “Meskipun SMTI berada di bawah Kementerian Perindustrian, namun tidak mudah bagi kami membangun kerjasama dengan dunia industri,” ungkapnya.

Ening bersama jajarannya kemudian menempuh cara dengan mengundag pihak industri untuk memberikan materi pendidikan dan melihat langsung kondisi sekolah. Sehingga mereka bisa mengetahui proses pembelajaran yang ada di SMTI. Selain itu, Ening juga menjalin kerjasama dengan para alumni agar mau membangun jaringan dengan industri di mana mereka bekerja. Dengan cara tersebut pelan tapi pasti relasi dengan industri bisa tersambung dengan baik hingga kini.

Usaha tersebut diimbangi dengan proses pembelajaran di SMTI yang dilakukan secara serius. Ening menerapkan disiplin yang ketat, termasuk kepada guru dan pegawai. Mereka yang tidak disiplin mendapat sangsi berupa pemotongan tunjangan kinerja sesuai aturan yang ada.

Sedangkan dari tenaga pengajar, sebagian guru di SMTI memang bukan berasal dari fakultas pendidikan melainkan dari jurusan umum. “Banyak di antara guru SMTI pernah bekerja di industri sehingga mereka memang memiliki pengalaman,” imbuh alumni SMTI 1987 tersebut.

Dalam sesi akhir FGD Kepala Seksi Kurikulum Kanwil Kemenag DIY, Anita Isdarmini, M. Hum. Mengajak peserta berpikir untuk menghasilkan peserta didik yang mampu beradaptasi dengan teknologi yang berkembang. “Jika tidak bisa beradaptasi dengan teknologi yang ada maka akan sulit mengimbangi kebutuhan di dunia industri,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut Anita menargetkan madrasah menggelar rapat kerja sebelum libur semester. Ia pun menyarankan agar segera terbentuk musyawarah guru mata pelajaran khusus keterampilan untuk memudahkan koordinasi. “Madrasah Aliyah keterampilan harus memiliki loncatan-loncatan dalam pencapaian tidak boleh biasa-biasa saja,” tegasnya. [eko]

Kontributor : Eko Triyanto
Editor : Eko Triyanto
Dibaca : 281

Bagikan