Narasumber Kajian Rutin MAN 2 Bantul Beri Mau’idzoh Terkait Tingkatan Puasa


Narasumber Kajian Rutin MAN 2 Bantul  Beri Mau’idzoh Terkait Tingkatan Puasa Abdul Ghofur, S.Ag, M.Pd menyampaikan mau'idzoh khasanah tentang tingkatan puasa di masjid at-Ta'awun
Kategori : MADRASAH
Tanggal : 2021-04-27 13:26:45

Bantul (MAN 2 Bantul)- Dengan berpuasa seorang mendapatkan ridho Allah. Arti puasa secara umum bagi orang Islam ialah menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan syarat tertentu, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim. Puasa mempunyai faidah yang sangat banyak baik secara jasmani maupun rohani. Berpuasa berarti memberikan kesempatan bagi usus dan lambung untuk menyaring makanan sehingga bisa menjadi obat yang menyehatkan badan.

Pada Sabtu (24/4/2021) Abdul Ghofur, S.Ag, M.Pd, selaku narasumber pada kajian rutin yang diselenggarakan tiap sabtu memberikan pesan singkat terkait dengan tingkatan orang yang berpuasa sesuai dengan kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali. Sebelum menjelaskan tentang materi tersebut, ia memaparkan bahwa puasa berarti menahan ucapan, penglihatan, pendengaran, termasuk tangan, perut dan kaki hingga hati agar digunakan untuk ha-hal yang baik. Puasa juga menjadi perisai dari hal-hal yang buruk, yang akan menimpa diri kita baik secara lahir maupun batin. Di pertengahan mau’idzohnya, ia mengatakan bahwa kaum muslim hendaknya tidak menghabiskan puasa dengan tidur saja, meski dalam sebagian riwayat mengatakan tidurnya orang yang berpuasa ialah berpahala, namun gunakan waktu yang ada untuk beribadah secara maksimal.

Ia menjelaskan ada tiga tingkatan orang yang berpuasa, “Dalam kitab karya Al-Ghazali disebutkan, ‘ketahuilah ada tiga tingkatan puasa yaitu puasa umum, puasa khusus, puasa khusus dari khusus.  Puasa umum yaitu mencegah perut dan kemaluan dari pada memenuhi keinginannya, Puasa umum ini titik beratkan hanya kepada menahan hal-hal yang membatalkan. Kedua, yakni Puasa khusus yaitu berusaha mencegah pandangan, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan anggota-anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa. Puasa khusus ini, disamping mencegah keinginan perut dari nafsu kelamin, juga menahan keinginan dari anggota-anggota badan seluruhnya. Terakhir ialah puasa khusus dari khusus yakni puasa hati dari segala cita-cita yang hina dan segala pikiran duniawi serta mencegahnya daripada selain Allah SWT secara keseluruhan.” (ken)

Kontributor : MAN 2 BANTUL
Editor : Eko Triyanto
Dibaca : 61

Bagikan