Persiapkan Jalan bagi Tuhan


Persiapkan Jalan bagi Tuhan
Kategori : INFORMASI
Tanggal : 2020-12-10 10:42:51

Seruan mempersiapkan atau berjaga-jaga tentang sesuatu hal dalam hidup sehari-hari sering kita jumpai. Misalnya kejadian Gunung Ile Lewotolok di Lembata yang meletus pada 29 November 2020 yang mengeluarkan material vulkanik. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi terus memperingatkan masyarakat di Ile Ape dan sekitarnya agar waspada dan segera mengungsi keluar dari zona berbahaya untuk mencari tempat yang aman. Demikian dilansir dari kemenag.go.id.

Masyarakat sekitar dengan kondisi seadanya pun langsung mencari tempat aman agar terhindar dari letusan gunung tersebut. Maksud peringatan dini yang disampaikan oleh pihak terkait sehubungan dengan gejala alam agar semua waspada dan berjaga-jaga, sehingga semua selamat dan tidak tertimpa bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Dalam bacaan pertama yang ada dalam Yesaya, seruan dari Nabi Yesaya agar mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Sebuah berita gembira akan kedatangan Tuhan. Yesaya menggambarkan seperti kondisi geografis soal jalan, gunung yang lekak-lekuk, dan yang perlu dipersiapkan dengan baik menyongsong kedatangan Tuhan. 

Kabar baik itu harus ditanggapi secara positif dan antusias bahwa orang harus mempersiapkan diri dengan baik. Persiapan dapat dilakukan dengan menyiapkan hati yang lembut untuk menyambut kedatangan Tuhan dalam hidup.

Dalam bacaan kedua, pandangan Petrus tentang kedatangan Yesus mengajarkan tiga hal penting. Pertama, Tuhan adalah kekal dan tidak dibatasi ruang dan waktu. Perspektif waktu Tuhan berbeda dengan manusia. Masalah waktu kedatangan Yesus yang kedua kali ada dalam kedaulatan Allah. Kita tidak dapat memperkirakan waktu itu. Yang dapat kita lakukan adalah menanti dengan sikap berjaga-jaga. 

Kedua, Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya. Meski terasa lama, Tuhan tidak melupakan janji kedatangan-Nya. Petrus menyatakan bahwa “penundaan” itu bukan karena Tuhan lalai, melainkan karena kasih-Nya yang mendalam kepada manusia. Tuhan masih ingin memberi waktu kepada manusia agar mengenal Dia dan bertobat dari dosa mereka. Jika Yesus belum datang juga, hal itu harus dilihat sebagai tanda kesabaran dan kasih-Nya.

Dalam Injil Markus memuat kisah pelayanan Yohanes Pembaptis di padang gurun. Yohanes Pembaptis adalah utusan Allah untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Putera-Nya, yaitu Yesus Kristus. Pada masa Perjanjian Lama, seorang pembawa pesan akan mendahului kedatangan seorang raja. Utusan itu bertugas memastikan bahwa jalan yang akan dilalui raja cukup aman. Ia juga bertugas mempersiapkan rakyat menyambut raja. 

Dalam rangka menyambut kedatangan Kristus, Yohanes mempersiapkan orang untuk menyambut kedatangan-Nya dan kemudian mengikuti Dia.

Nabi Yesaya menyebutkan bahwa khotbah yang disampaikan Yohanes bagai buldoser yang digunakan untuk membangun jalan bebas hambatan. Jalan itu membuat Tuhan dapat mencapai tempat yang tertutup bahkan terisolasi.

Lalu bagaimana cara membuat jalan itu? “Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran. Itulah gambaran pertobatan yang diserukan Yohanes, yakni runtuhnya puncak kesombongan, keangkuhan, tertimbunnya lembah kekelaman, kedosaan kita, dan lurusnya hati yang bengkok, hati yang congkak agar Ia layak datang ke hati kita.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mempersiapkan kedatangan-Nya? Gereja menyiapkan sarana yang baik agar umat dapat menyiapkan diri menyambut Yesus Kristus yang dinanti-nantikan antara lain dengan sakramen Pengakuan Dosa. Tuhan memberkati.

 

Benediktus Haro (Ditjen Bimas Katolik)

( Sumber : kemenag.go.id )

Kontributor : MAGANG
Editor : Bramma Aji Putra
Dibaca : 488

Bagikan