Moment HGN, Ketum Pergumapi Bedah Buku Karya Difabel Netra “Tersenyum dalam Gulita”


Moment HGN, Ketum Pergumapi Bedah Buku Karya Difabel Netra  “Tersenyum dalam Gulita”
Kategori : MADRASAH
Tanggal : 2020-12-03 10:34:22

Yogyakarta (Pergumapi) - Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Upacara yang dulu biasa digelar di berbagai tempat secara tatap muka kini tak semua dapat melakukannya, sebagian melakukan secara virtual lewat zoom meeting. Namun hal ini tak mengurangi kekhidmatan peringatan HGN.

Beberapa hari sebelumnya berbagai kegiatan pun banyak digelar untuk menyambutnya, seperti  aneka lomba dan webinar. Mereka tak ingin kehilangan momentum bersejarah di dunia pendidikan. Pun demikian dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama D.I. Yogyakarta. Bekerja sama dengan MAN 2 Sleman dan Perkumpulan Guru Madrasah Penulis (Pergumapi), Kanwil Kemenag DIY menghelat acara webinar bertajuk “Penulisan Kreatif dan Bedah Buku Karya Difabel Netra Tersenyum dalam Gulita”. Webinar digelar secara virtual pada Selasa (24/11). Webinar dimoderatori oleh Edy Purwanto, guru MAN 2 Bantul sekaligus Sie Bidang Diklat Pergumapi dengan menghadirkan dua narasumber: Ketua Umum Pergumapi, Siska Yuniati dan Ahmad Arief Ma’ruf, guru MAN 2 Sleman sekaligus Pembina Pergumapi.

Moment HGN, Ketum Pergumapi Bedah Buku Karya Difabel Netra  “Tersenyum dalam Gulita”

Mengawali webinar, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag DIY memberikan apresiasi terhadap karya difabel netra, Barokah dan Akbar Apriantono, siswa MAN 2 Sleman. “Apresiasi setinggi-tingginya atas karya difabel, ternyata mereka tak kalah dengan kita  yang normal. Apresiasi juga terhadap guru pembimbing yang tetap memberikan layanan kepada difabilitas dan tetap peduli pada sesama,” papar Kabid Dikmad, Muntolib.

Apresiasi juga diberikan oleh Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan Dikmad Kanwil Kemenag DIY, Anita Isdarmini. Tak hanya terhadap karya difabel netra tetapi juga terhadap Pergumapi yang telah mewadahi para guru madrasah penulis di seluruh nusantara. “Terima kasih kepada Pergumapi, kepada Bu Siska Yuniati sebagai Ketua Umum yang telah mengajak dan menginspirasi guru-guru madrasah untuk menulis. Tiada hari tanpa karya, semangat berkarya, berbagi, dan mengabdi,” tuturnya.

Sementara itu Ketua Umum Pergumapi, Siska Yuniati mengawali bedah bukunya dengan paparan tentang tema-tema yang ada di buku Tersenyum dalam Gulita yaitu cinta, harapan, kepedulian, guru, ilmu, cinta tanah air, radio, alam, dan ketuhanan. Peraih penghargaan Internet Sehat Blog & Content Award, Indonesian ICT Partnership Association 2010 ini mengambil satu contoh puisi yang ada di buku tersebut. “Salah satu puisi yang ada di dalamnya bercerita tentang perundungan yang terjadi di sekitar mereka. Dan mereka menjawabnya dengan prestasi. Melahirkan sebuah karya. Ini sesuatu yang luar biasa,”paparnya.

Bagaimana mereka berkarya? Guru MTsN 3 Bantul ini menyampaikan apa yang tertulis di buku tersebut: “Tunanetra sepertiku sangat tidak mungkin jika harus membaca materi melalui buku fiksi dari sekolah. Untuk itu kami harus melakukan kerja dua kali dalam mengubah buku tersebut menjadi format PDF maupun Ms. Word dengan cara discan. Setelah dikonversi menjadi buku elektronik barulah kami dapat membacanya dengan mandiri melalui hp/laptop dengan bantuan aplikasi screen reader.”  Hal ini dapat menjadi motivasi bahwa meskipun harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan karya tetapi mereka tidak patah semangat.

Sebagai penutup, Siska yang juga cerpenis handal ini menutup bedah bukunya dengan ungkapan: “Sebagian orang mengeluhkan keterbatasan sehingga minim karya, sebagian lainnya banyak berkarya untuk meminimkan keterbatasannya.”  

Pada sesi kedua, Ahmad Arief Ma’ruf berbicara tentang bagaimana cara mudah menulis puisi dan cerpen. Arief mengajak peserta webinar bertamasya di alam imaginasi (puisi dan cerpen). Sebagai ilustrasi, guru peraih medali emas dan penghargaan the best inventor dalam kompetisi International Science and Invention Fair (ISIF) 2020 ini menggambarkan tentang dua buah aquarium kecil yang satu berisi ikan, yang lain hanya berisi air. Karena terlalu penuh ikan-ikan tersebut ada yang melompat menuju ke aquarium yang hanya berisi air. Ini adalah gambaran seorang guru yang ingin out of the box dari rutinitasnya dan ingin mencari suasana baru, salah satunya dengan memasuki dunia kepenulisan.

Lebih lanjut Arief memaparkan tentang kiat menulis puisi, yaitu menulis puisi sebanyak-banyaknya, mendengarkan pembacaan puisi, puisi tidak harus panjang, jangan takut salah memulai, gunakan persajakan, dan berpuisilah tentang diri kita sendiri. Sedangkan untuk menulis cerpen kiat-kiatnya adalah gunakan gaya “aku”, perbanyak dialog, buat kerangka, tulis konfliknya terlebih dahulu, dan membaca Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Paparan kedua narasumber yang namanya tak asing di jagad kepenulisan ini telah membuka mata para peserta bahwa menulis itu ternyata mudah. Belajar dari Akbar dan Barokah, jika keduanya sebagai penyandang difabel netra saja memiliki karya, bagaimana dengan kita yang normal? Mari semangat berkarya, berbagi, dan mengabdi. (nsh)

 

 

Kontributor : MTSN9BANTUL
Editor : Bramma Aji Putra
Dibaca : 134

Bagikan